Memasuki tahun 2026, XRP berada pada posisi yang potensial untuk mengalami kenaikan harga. Prospek positif ini didukung oleh peluncuran exchange-traded fund (ETF) spot, penerbitan stablecoin baru, serta kemampuan tokenisasi yang terus berkembang di dalam ledger-nya.

Meski begitu, peluang naik tersebut belum pasti. Performa XRP sangat bergantung pada kejelasan regulasi yang berkelanjutan di Amerika Serikat serta apakah permintaan investor terhadap produk-produk terkait XRP akan tetap cukup kuat untuk mengalahkan persaingan yang semakin ketat.

Sponsored

Sponsored

Bagaimana ETF XRP Mengubah Permintaan

Laporan terbaru dari manajer aset 21Shares memperkirakan bahwa XRP memiliki peluang 30% untuk mencapai US$2,69 pada tahun 2026, sebuah skenario yang mereka sebut sebagai bull case.

Prediksi ini bergantung pada beberapa pencapaian sukses yang diraih XRP dan secara umum Ripple selama tahun 2025.

Setelah berakhirnya litigasi multi-tahun dengan Securities and Exchange Commission (SEC) pada Agustus 2025 yang secara efektif menghapus ketidakpastian hukum dari aset ini, XRP kembali terbuka untuk publik, sekaligus membuka akses bagi institusi, bank, dan perusahaan pembayaran berbasis di Amerika Serikat.

Barulah setelah kejelasan hukum tersebut tercapai, ETF XRP spot di AS mendapatkan persetujuan dari SEC.

XRP mengumpulkan US$1,3 miliar setelah peluncuran ETF spot-nya. Sumber: 21Shares.

Menurut Matt Mena, peneliti kripto di 21Shares, peluncuran ini secara mendasar mengubah profil permintaan aset. Dalam satu bulan setelah peluncurannya, ETF ini berhasil mengumpulkan lebih dari US$1,3 miliar dana kelolaan.

“Fakta kunci yang banyak orang tidak sadari adalah ETF XRP mencatat rekor dunia, di mana mereka memegang rekor periode arus masuk bersih terpanjang secara berturut-turut tanpa memandang kelas aset—mengalahkan saham, komoditas, obligasi, bahkan Bitcoin—dengan lebih dari 50 hari arus masuk bersih berturut-turut,” tutur Mena kepada BeInCrypto, seraya menambahkan, “Ini adalah fakta luar biasa dan menunjukkan betapa kuatnya arus masuk ETF XRP setelah peluncuran.”

Sponsored

Sponsored

Selain ETF-nya, XRP juga meluncurkan produk-produk lain yang menjadi pemicu pertumbuhan.

Posisi XRPL untuk Keuangan Ter-tokenisasi

Menjelang tahun 2030, 21Shares memperkirakan bahwa keuangan global akan berjalan dengan sistem hibrida yang menggabungkan simpanan bank yang ditokenisasi, stablecoin yang didukung fiat dan sudah diatur, serta layer penyelesaian lintas platform yang saling terhubung.

Di tengah berkembangnya sistem keuangan global yang berfokus pada tokenisasi, Mena menggambarkan XRP Ledger (XRPL) sebagai layer penyelesaian netral yang menghubungkan likuiditas, kecepatan, dan kepatuhan regulator.

Aktivitas terbaru di jaringan semakin menyoroti infrastruktur yang bisa diprogram. Fitur ini memungkinkan institusi mengeluarkan dan mengelola real-world assets (RWA) yang kompleks, seperti obligasi dan saham.

Di sisi lain, performa stablecoin XRP, RLUSD, sebagai sarana likuiditas memperkuat pandangan 21Shares bahwa XRP masih punya peluang naik lebih jauh, asalkan adopsi terus meningkat.

Sponsored

Sponsored

Stablecoin RLUSD milik XRP tumbuh pesat sejak peluncurannya pada Desember 2024. Sumber: 21Shares.

Laporan tersebut menyoroti ekspansi RLUSD yang sangat cepat, di mana kapitalisasi pasarnya naik sekitar 1.800% dari US$72 juta menjadi US$1,38 miliar dalam waktu kurang dari satu tahun. Pertumbuhan ini membuat stablecoin tersebut menjadi sumber jaminan potensial bagi institusi besar dan berbagai use case keuangan tingkat lanjut.

Meski mencatat pertumbuhan pesat, aset ini masih menghadapi persaingan ketat dari jaringan lain yang sudah mapan. Untuk mencapai skenario bullish, XRP harus mampu menjaga permintaan investor di tengah tekanan tersebut.

Skenario Penurunan dan Tekanan Persaingan

Pelemahan permintaan terhadap ETF XRP, kegagalan menarik volume RWA yang signifikan ke XRPL, dan lesunya adopsi RLUSD berpotensi menciptakan skenario harga berbeda bagi aset ini.

Sponsored

Sponsored

Selain outlook bullish, 21Shares juga menguraikan beberapa skenario alternatif berdasarkan kondisi pasar dan tingkat adopsi yang berbeda-beda. Mereka memberi probabilitas 50% pada skenario dasar di mana stabilitas regulasi mendukung arus masuk ETF yang stabil dan pertumbuhan utilitas secara bertahap, sehingga menempatkan harga XRP di sekitar US$2,45.

Di sisi lain, laporan itu memperkirakan kemungkinan -16% untuk skenario bearish, di mana harga XRP bergerak turun ke US$1,60. Hasil ini diasumsikan terjadi bila tingkat adopsi stagnan dan modal investor beralih ke aset pesaing.

Di luar risiko penurunan permintaan, XRP juga harus menghadapi persaingan yang semakin sengit. Jaringan seperti Canton dan Solana, bersama jaringan lainnya, menunjukkan pertumbuhan pesat sepanjang tahun lalu.

Canton, walaupun baru aktif kurang dari dua tahun, telah memproses triliunan dolar dalam bentuk aset yang sudah ditokenisasi.

Namun, Mena nampak tidak terlalu khawatir dengan tekanan persaingan ini. Ia memang mengakui besarnya skala dan laju jaringan saingan, tapi dia menyoroti komunitas XRP sebagai pembeda utama.

“XRP Army adalah salah satu komunitas terbesar dan paling vokal di dunia aset kripto, dan saya rasa, selain Bitcoin dan Dogecoin, ini adalah token yang bahkan orang-orang yang sama sekali tidak terlibat di aset kripto pun sepertinya mengenalinya,” ujar dia.

Bagi XRP, tahun 2026 akan menjadi ujian apakah momentum itu bisa berubah menjadi nilai jangka panjang.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *