Exchange-traded fund (ETF) Solana bergerak berlawanan dengan tren ETF aset kripto secara umum pada bulan ini. Sementara permintaan untuk produk Bitcoin dan Ethereum mulai menunjukkan tanda-tanda melambat, dana yang terhubung dengan Solana tetap mencatatkan arus masuk yang stabil.
Pergeseran ini terjadi di tengah volatilitas yang meningkat di pasar aset digital. Dengan ketidakpastian ekonomi makro yang membayangi sentimen investor, arus dana ETF bisa menjadi sinyal di mana modal institusional sedang mengambil posisi dalam jangka pendek.
Reli ETF Solana Menonjol di Pasar Aset Kripto yang Volatil
Berdasarkan data dari SoSoValue, ETF Solana telah mencatat arus masuk berturut-turut sejak 10 Februari. Hingga 24 Februari, produk ini hanya mengalami tiga hari merah sepanjang bulan ini. Secara keseluruhan, ETF tersebut telah menarik dana sebesar US$30,33 juta.
Rekor positif ini terasa mencolok bila dibandingkan dengan performa lebih fluktuatif yang dialami ETF aset kripto besar lainnya di periode yang sama.
ETF Bitcoin mencatat hasil campuran di bulan Februari. Arus masuk tercatat hanya di tujuh hari perdagangan bulan ini. ETF Ethereum menunjukkan pola serupa, menggambarkan permintaan yang tidak konsisten alih-alih akumulasi berkelanjutan.
Meski ada sesi-sesi positif, akumulasi arus dana masih sangat negatif. Sampai saat ini, ETF Bitcoin mengalami arus keluar bersih sebesar US$939,94 juta dalam bulan ini. Selain itu, ETF Ethereum mencatat arus keluar sebesar US$490,58 juta.
Bila dibandingkan dengan produk altcoin lain, performa Solana juga terlihat relatif lebih kuat. ETF terkait XRP mengalami arus keluar di tiga hari perdagangan bulan ini dan tidak ada arus dana masuk maupun keluar di empat hari lainnya.
Walau jumlah sesi positifnya hampir sama, konsistensi tren positif Solana sejak pertengahan Februari tetap menjadi hal yang menonjol.
Meski begitu, penting untuk melihat data ini secara proporsional. Jika dilihat dari nilai absolut, dana yang masuk ke ETF Solana masih lebih kecil dibandingkan produk Bitcoin.
ETF Bitcoin dan Ethereum masih mendominasi eksposur institusional di aset kripto serta alokasi modal secara keseluruhan. Tapi, konsistensi arus masuk dapat menunjukkan ketahanan permintaan relatif kuat di tengah periode ketidakpastian yang lebih luas.
Arus masuk yang stabil ke produk Solana menunjukkan bahwa sebagian investor tetap mempertahankan atau bahkan memperbesar eksposur ke aset berisiko tinggi, padahal ETF aset kripto utama mengalami permintaan yang naik turun. Meski demikian, perbedaan ini mungkin hanya mencerminkan rotasi modal jangka pendek, bukan perubahan permanen dalam strategi institusi.
Harga SOL Masih dalam Tekanan
Meski ETF Solana mendapatkan arus masuk, performa harga Solana masih mencerminkan pelemahan pasar secara umum. Seperti mayoritas aset digital utama lainnya, SOL mengalami tren turun selama sebulan terakhir, dengan penurunan 32,8%.
Namun hari ini, altcoin tersebut sempat mengalami pemulihan moderat, naik lebih dari 7% seiring dengan total kapitalisasi pasar aset kripto yang bertambah sekitar US$32 miliar. Pada saat berita ini ditulis, SOL diperdagangkan di harga US$82,15.
Meski begitu, analis teknikal masih berhati-hati terkait prospek SOL dalam waktu dekat. Komentator pasar Alejandro mengisyaratkan bahwa target penurunan Solana berikutnya bisa jadi di kisaran US$45.
Whale Factor menjelaskan bahwa token ini sedang memasuki zona “make or break” berprobabilitas tinggi pada grafik 4 jam. Menurut analisis tersebut, formasi wedge pada SOL “sudah mendekati titik jenuh tertinggi”, menandakan potensi tekanan volatilitas besar di titik kritis.
Analis tersebut memaparkan dua skenario yang mungkin terjadi:
“Skenario Bull: Breakout bersih dan retest di US$82 menargetkan resistance makro di kisaran US$97-100. Skenario Bear: Jika tidak mampu bertahan di support US$78, ada peluang retest sampai ke US$68.”
Apakah Solana akan melanjutkan pemulihan atau justru mendapatkan tekanan jual lagi, masih perlu dilihat perkembangannya.
