MARA Holdings Inc. mencatatkan kerugian bersih sebesar US$1,7 miliar pada kuartal keempat (Q4) tahun 2025, berbalik tajam dari laba US$528 juta yang didapatkan setahun sebelumnya.

Laporan ini dirilis hanya beberapa jam setelah Bitcoin miner tersebut menjalin kemitraan strategis dengan Starwood Capital Group milik Barry Sternlicht.

Kerugian US$1,7 Miliar MARA Menyoroti Volatilitas Bitcoin, tapi Pivot ke AI Menandakan Strategi Baru

Kerugian MARA sebesar US$1,7 miliar di Q4 ini terjadi di tengah penurunan harga Bitcoin sekitar 30% pada periode tersebut. Akibatnya, perusahaan harus melakukan penurunan nilai wajar non-tunai senilai US$1,5 miliar atas kepemilikan aset digitalnya.

  • Pendapatan kuartalan turun 6% secara tahunan (YoY) menjadi US$202,3 juta, dari US$214,4 juta pada Q4 2024.
  • EBITDA yang disesuaikan berubah drastis menjadi minus US$1,49 miliar, sedangkan tahun lalu di kuartal yang sama masih positif US$796 juta.
  • Sepanjang tahun, MARA melaporkan kerugian bersih US$1,3 miliar, berbalik dari laba bersih US$541 juta pada 2024.

Hal ini memperlihatkan bagaimana metode akuntansi mark-to-market bisa memperbesar volatilitas bagi perusahaan dengan treasury Bitcoin besar. Meski laba terkena tekanan, MARA menutup tahun 2025 dengan 53.822 BTC di neraca keuangannya, naik 20% YoY.

Laporan BTC dan Q4 2025 Mara Holdings
Laporan BTC dan Q4 2025 Mara Holdings. Sumber: Laporan Q4 2025 Mara

Dengan valuasi akhir tahun sekitar US$87.498 per Bitcoin, nilai keseluruhan kepemilikan tersebut sekitar US$4,7 miliar. Dari total tersebut:

  • 38.507 BTC tidak dibatasi,
  • 9.377 BTC dipinjamkan, dan
  • 5.938 BTC dijadikan agunan.

Jadi, sekitar 28% dari tumpukan Bitcoin mereka berada dalam status terikat. Selama tahun berjalan, MARA menghasilkan pendapatan bunga senilai US$32,1 juta dari aktivitas peminjaman tersebut.

Likuiditas tetap kuat. MARA melaporkan total likuiditas sekitar US$5,3 miliar, gabungan dari kas tidak terbatas dan kepemilikan Bitcoin termasuk yang dipinjamkan maupun yang dijaminkan.

Mereka juga menghimpun dana US$568,6 juta di 2025 melalui program at-the-market (ATM), tapi menghentikan pemakaian fasilitas ini pada Q4, sehingga menjadi kuartal pertama sejak 2022 mereka tidak menggunakan program tersebut.

Dari sisi operasional, miner ini terus melakukan ekspansi. Hashrate aktif mencapai rekor 66,4 exahash per detik (EH/s) di Q4, naik 25% dari tahun sebelumnya. tapi, angka ini masih di bawah target 75 EH/s yang sempat diumumkan, karena manajemen menekankan kedisiplinan penggunaan modal.

Perubahan Strategi Infrastruktur AI Mengubah Strategi Pertumbuhan MARA

Produksi Bitcoin mencapai total 2.011 BTC pada kuartal ini, turun 6% YoY, akibat peningkatan tingkat kesulitan jaringan serta tekanan biaya energi musiman.

Biaya energi per Bitcoin yang dibeli naik menjadi US$48.611 di Q4, sedangkan biaya per petahash per hari membaik 4% menjadi US$30,5. Hal ini menandakan peningkatan efisiensi setelah penggunaan perangkat baru.

Lebih dari sekadar mining, MARA kini mempercepat peralihan strategis ke sektor energi dan infrastruktur digital, khususnya AI dan high-performance computing (HPC).

Perusahaan ini mengumumkan joint venture bersama Starwood Digital Ventures untuk mengembangkan data center enterprise, hyperscale, dan yang mendukung AI.

Kemitraan ini menargetkan kapasitas IT sekitar 1 gigawatt (GW) dalam waktu dekat, dengan roadmap jangka panjang bisa mencapai lebih dari 2,5 GW.

MARA bisa berinvestasi hingga 50% pada proyek-proyek ini, sehingga mereka punya peluang mendapatkan pendapatan infrastruktur berulang sekaligus mengurangi eksposur terhadap fluktuasi harga Bitcoin.

Perusahaan juga menyoroti kepemilikan 64% saham di Exaion dan akuisisi data center 42 megawatt di Nebraska sebagai bagian dari strategi ekspansi AI/HPC mereka.

Menambah aspek menarik di pasar, MARA baru-baru ini memperbarui indikator kompensasi eksekutif dalam pelaporan 8-K. Kini, penghargaan saham dikaitkan dengan kapasitas megawatt serta pendapatan berulang yang sudah dikontrak, bukan lagi semata-mata tergantung hasil mining.

Perubahan tersebut juga menambahkan klausul change-of-control, di mana jika terjadi penjualan perusahaan maka target kinerja otomatis dianggap tercapai. Langkah ini jadi bahan spekulasi pasar soal potensi akuisisi MARA oleh pihak lain.

Secara keseluruhan, MARA nampaknya kini menyeimbangkan treasury Bitcoin yang besar dengan pembangunan infrastruktur yang ambisius.

Jika memang langkah ini berjalan sesuai rencana, transformasi mereka dari sekadar Bitcoin miner menjadi platform energi dan AI yang terdiversifikasi bisa menjadi kunci untuk meredam gejolak pendapatan pada siklus aset kripto berikutnya.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *