Washington Memanas: Drama Politik Mencuat Usai Mahkamah Agung Amerika Serikat Membatalkan Tarif Global Besutan Presiden Donald Trump

Putusan ini langsung memicu reaksi tajam dari berbagai pihak dan memperlihatkan jurang perbedaan yang makin lebar soal perdagangan, kekuasaan eksekutif, dan masa depan ekonomi negara.

Badai Politik: Wakil Rakyat Saling Serang Soal Perdagangan, Kekuasaan, dan Tarif US$150 Miliar

Lewat keputusan 6–3, Mahkamah Agung menilai bahwa Trump telah melampaui wewenangnya berdasarkan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) saat menerapkan tarif “resiprokal” secara luas pada tahun 2025 tanpa persetujuan jelas dari Kongres.

Putusan ini membatalkan sebagian besar pungutan global tersebut, sekaligus jadi pukulan telak bagi pilar utama agenda ekonomi Trump di periode keduanya.

Sama seperti reaksi pasar saham dan aset kripto, tanggapan politik pun langsung memanas — dan heboh.

Demokrat Umumkan Kemenangan

Pemimpin Mayoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, menyebut putusan ini sebagai kemenangan bagi konsumen.

“Ini kemenangan untuk dompet setiap konsumen Amerika. Tarif pajak Trump yang kacau dan ilegal membuat hidup jadi lebih mahal dan ekonomi kita makin tidak stabil.”

Ia menambahkan:

“Tarif pajak ilegal Trump kini runtuh — Ia mencoba memerintah dengan dekrit dan membebankan tagihan kepada keluarga-keluarga. Cukup sudah kekacauan ini. Akhiri perang dagang.”

Demikian pula, Senator Elizabeth Warren menyoroti beban finansial bagi rumah tangga dan pelaku usaha kecil.

“Tidak ada putusan Mahkamah Agung yang bisa menghapus kerusakan besar yang sudah ditimbulkan tarif kacau Trump. Rakyat Amerika yang membayar tarif ini, dan rakyat Amerika harus mendapat uang mereka kembali,” ucapnya dalam pernyataan.

Dalam pernyataan yang lebih luas, Warren bilang bahwa pengembalian uang dari putusan ini “harus jatuh ke tangan jutaan warga Amerika dan pelaku usaha kecil yang secara ilegal dirampas uang hasil jerih payahnya.”

Anggota Peringkat Komite Anggaran DPR Brendan Boyle menggemakan pandangan tersebut:

“Putusan ini adalah kemenangan bagi setiap keluarga Amerika yang membayar harga lebih tinggi akibat tarif pajak Trump. Mahkamah Agung menolak upaya Trump memaksakan pajak penjualan nasional kepada warga Amerika pekerja keras.”

Republikan Terbelah soal Kekuasaan Eksekutif

Di sisi lain, reaksi dari partai Republik justru menunjukkan perpecahan antara kubu pendukung konstitusi dan nasionalis ekonomi.

Senator Rand Paul memuji keputusan ini sebagai pelindung dari penyalahgunaan kekuasaan eksekutif.

“Demi membela Republik kita, Mahkamah Agung membatalkan penggunaan kekuasaan darurat untuk menetapkan pajak. Putusan ini juga akan mencegah Presiden di masa depan seperti AOC menggunakan kekuasaan darurat untuk menjalankan sosialisme,” tuturnya lewat satu postingan.

Tetapi, Senator Bernie Moreno dengan keras mengecam langkah Mahkamah Agung tersebut:

“Putusan SCOTUS yang luar biasa ini justru membelenggu perjuangan kita melawan praktik perdagangan tidak adil yang telah menghancurkan pekerja Amerika selama puluhan tahun. Tarif ini melindungi lapangan kerja, menghidupkan kembali manufaktur, dan memaksa ‘curang’ seperti Cina untuk membayar,” jelasnya.

Moreno memperingatkan bahwa “kelompok globalis yang menang” akibat putusan ini, dan ia pun mendesak Partai Republik mengesahkan tarif dengan legislasi rekonsiliasi.

Trump Balas Serangan

Trump sendiri dilaporkan hanya memberikan satu kata saat sarapan di Gedung Putih bersama para gubernur:

“Memalukan.”

Presiden AS itu juga mengisyaratkan bahwa pemerintahannya sudah menyiapkan “rencana cadangan,” menyinggung kemungkinan memberlakukan kembali tarif memakai landasan hukum lain seperti Section 301 atau Section 232.

Sebuah Titik Kritis Konstitusi dan Ekonomi

Di luar drama politik saat ini, keputusan ini menjadi teguran langka dari Mahkamah Agung mayoritas konservatif atas wewenang perdagangan eksekutif.

Putusan tersebut mempertegas kuasa konstitusional Kongres dari sisi pengenaan pajak dan pengaturan perdagangan, serta membatasi ruang lingkup kewenangan ekonomi darurat berdasarkan IEEPA.

Di sisi lain, putusan ini juga menimbulkan pertanyaan praktis tentang kemungkinan pengembalian dana tarif dalam jumlah miliaran dan apakah para legislator bakal mencoba menghidupkan kembali bagian dari kebijakan perdagangan Trump melalui undang-undang baru.

Perseteruan hukum soal tarif kini telah berkembang menjadi pertarungan lebih besar mengenai kekuasaan presiden, nasionalisme ekonomi, serta soal siapa yang akhirnya mengendalikan arah kebijakan perdagangan Amerika.

“Mahkamah Agung sudah mengambil keputusan yang benar. Tapi mereka juga sangat membantu Trump, karena tarif yang dibuatnya merugikan ekonomi AS dan dibayar oleh masyarakat Amerika. Namun karena pendapatan dari tarif ini sekarang akan dihentikan dan pendapatan yang terdahulu harus dikembalikan, defisit anggaran AS yang sudah naik akan makin melonjak. Sudah siap beli emas?” sindir Peter Schiff melalui.

Pertarungan ini masih jauh dari selesai.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *