Israel dan Amerika Serikat telah melancarkan serangan bersama ke Iran, dengan batas waktu yang belum jelas dan kini sudah menimbulkan dampak ke seluruh Timur Tengah. Walaupun tujuan Israel sudah jelas, namun motif Amerika Serikat masih belum pasti.

Dalam sebuah percakapan dengan Steve Hanke, mantan penasihat Presiden Reagan sekaligus profesor ekonomi di Johns Hopkins University, risiko yang dihadapi Presiden AS Donald Trump cukup tinggi, bahkan bisa membuatnya kehilangan basis pemilih Make America Great Again miliknya.

Motif Trump yang Tidak Jelas di Timur Tengah

Jika para pendiri Amerika masih hidup saat ini, mereka pasti akan melihat situasi yang terjadi pada akhir pekan lalu dan menggelengkan kepala.

Pada abad ke-18, Benjamin Franklin pernah menyampaikan keyakinannya terkait perang dan perdagangan, yaitu, “sistem Amerika adalah perdagangan universal dengan semua negara, dan tidak berperang dengan siapapun.” Thomas Jefferson juga memperkuat visi kebijakan luar negeri itu melalui ucapannya sendiri: “Perdamaian, perdagangan, dan persahabatan jujur dengan semua negara—tanpa aliansi yang mempersulit dengan siapapun.”

Saat ini, kenyataannya justru berkebalikan. Ketika sudah mengetahui bahwa Israel berencana menyerang ibu kota Iran, Amerika Serikat ikut serta menyerang secara pre-emptive.

“Sudah sangat jelas jika Iran diserang oleh siapapun—Amerika Serikat atau Israel, maupun pihak lain—mereka pasti akan membalas, dan membalas terhadap Amerika Serikat,” ujar Menteri Luar Negeri Marco Rubio kepada sejumlah wartawan dalam wawancara baru-baru ini di Washington.

Bagi Hanke, motif Israel juga sudah sangat jelas: yaitu memperluas pengaruh di Timur Tengah. Sementara, alasan konkrit Amerika Serikat sulit untuk ditemukan. Hanke menyebutkan hal ini karena Trump terkenal tidak konsisten dalam kebijakannya selama masa kepresidenan.

“Kita memang tidak benar-benar tahu apa yang dipikirkan presiden Amerika Serikat karena dia sering berubah pikiran,” terang Hanke kepada BeInCrypto dalam sebuah wawancara di X Spaces baru-baru ini.

Hal yang justru makin terlihat jelas adalah kuatnya pengaruh Israel di Washington.

Peningkatan Pengaruh Israel terhadap Pembuatan Kebijakan AS

Hubungan Israel dan AS bisa dicontohkan lewat upaya lobi besar-besaran yang dilakukan beberapa komite aksi politik (PAC), seperti American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), selama periode pemilu di Amerika Serikat.

Total lobi tahunan AIPAC sejak 1998. Sumber: OpenSecrets.
Total lobi tahunan AIPAC sejak 1998 | Sumber: OpenSecrets.

Berdasarkan data kelompok riset non-partisan OpenSecrets, AIPAC telah menghabiskan lebih dari US$42 juta untuk kontribusi bipartisan selama pemilu federal 2024. Sementara itu, pada tahun 2025, komite ini menggelontorkan US$3,76 juta untuk kegiatan lobi. Jumlah ini menjadi rekor terbesar dalam satu tahun hingga saat ini.

“Lobi ini punya pengaruh luar biasa atas kebijakan luar negeri yang diambil Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah,” jelas Hanke.

Di luar hubungan semakin rumit antara Amerika Serikat dan Israel, sepertinya Trump juga menggunakan serangan terbaru ke Iran ini sebagai pengalihan dari berbagai peristiwa penting yang terjadi di dalam negeri.

Citra Anti Perang Trump Mulai Memudar

Trump memulai tahun 2026 dengan sederet keputusan kontroversial. Tiga hari di awal tahun baru, Amerika Serikat berhasil menangkap serta mengekstradisi pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro. Tidak sampai sebulan kemudian, sang presiden memulai kampanye agresif untuk membeli Greenland, sehingga menimbulkan ketegangan langsung dengan sekutu Eropa.

Kedua keputusan tersebut terjadi di tengah ancaman tarif berulang yang terus dilontarkan. Di saat yang sama, Departemen Kehakiman juga merilis dokumen baru kasus Epstein.

Ini membuat sang presiden kini berada di tengah perdebatan publik terkait hubungannya dengan miliarder sosialita Epstein serta seberapa jauh pengetahuan Trump terhadap kasus perdagangan seks yang menjerat Epstein pada tahun 2019.

“Kasus Jeffrey Epstein tidak akan menghilang—beritanya masih terus bermunculan di media,” papar Hanke, seraya menambahkan, “Ini jadi jalur keluar dari hasil survei yang menurun. Cara terbaik bertahan di kekuasaan adalah memulai perang… itu pengalihan yang cukup besar.”

Di sisi lain, langkah Trump bisa menjadi tantangan besar bagi kekuatan politiknya ke depan. Salah satu janji utama Trump selama kampanye adalah mengakhiri seluruh peperangan yang masih berlangsung, bahkan sampai menyebut dirinya sebagai “presiden perdamaian.”

Narasi ini pun mulai terurai.

“Menurut saya secara politik, dia sedang memainkan kartu yang sangat berisiko dengan basis pendukungnya… popularitasnya menurun dengan cepat di Amerika Serikat karena sikapnya yang intervensif dan mengancam,” ujar Hanke. “Apakah dia akan mampu mengakhiri [konflik di Timur Tengah] dalam waktu singkat… kita belum tahu.”

Indikator berikutnya untuk melihat popularitas presiden saat ini akan muncul pada pemilihan paruh waktu bulan November, yang akan menentukan apakah Partai Republik tetap bisa menguasai kedua kamar Kongres.

Walau keputusan kebijakan luar negeri Trump dapat berdampak besar secara politik di dalam negeri, pengaruhnya ke ekonomi global, khususnya harga minyak, terlihat lebih terbatas dari yang diperkirakan.

Konflik Iran Gagal Ganggu Minyak, Cina Tetap Seimbang

Berlawanan dengan anggapan umum, Hanke tidak percaya bahwa perang melawan Iran akan memberikan dampak besar terhadap harga minyak di AS.

Pada abad ke-20, gangguan produksi minyak pernah memberikan pengaruh lebih besar ke ekonomi global. Namun saat ini, produksi minyak di AS semakin meningkat, sementara produksi minyak Iran dan kawasan Teluk telah menurun.

Hanke menjelaskan bahwa, sejak kejadian akhir pekan lalu, harga minyak AS hanya naik sekitar US$10 per barel, yang berarti kenaikan sekitar 25 sen per galon.

“Apa yang terjadi hari ini merupakan reaksi yang cukup wajar,” terang Hanke, seraya menambahkan, “Intensitas minyak sudah jauh menurun. Walaupun harga naik, dampaknya terhadap PDB tidak sebesar yang terjadi pada tahun 1978.”

Upaya Trump untuk menghambat pasokan minyak ke Cina lewat intervensinya di Venezuela dan Iran nampaknya tidak akan menghasilkan dampak yang diharapkan terhadap pesaing utama Amerika Serikat. Hanke menegaskan bahkan jika Selat Hormuz tertutup, keunggulan strategis Cina tidak bisa diabaikan.

Sementara Organisation of Petroleum Exporting Countries (OPEC) memiliki minyak, Cina memiliki mineral rare earth.

“Jika AS ingin memainkan permainan ini dengan memutus suplai minyak Venezuela dan menutup jalur keluar Selat Hormuz, percayalah, Cina tahu bagaimana menghadapi tekanan,” papar dia. “Cina akan menghentikan ekspor rare earth, dan itulah akhirnya. Dalam waktu enam bulan, ekonomi Barat akan benar-benar terpuruk.”

Seiring perkembangan situasi di Timur Tengah, dampak sebenarnya dari langkah geopolitik ini pada stabilitas global dan politik AS masih perlu dibuktikan. Beberapa bulan ke depan akan menjawab apakah langkah spekulatif Trump di bidang luar negeri justru memperkuat atau semakin melemahkan posisi politiknya.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *