Pasar langsung reli setelah Presiden AS, Donald Trump, membatalkan tarif terhadap sekutu-sekutu Eropa pada Rabu usai pidatonya di World Economic Forum di Davos.
Tapi, kegembiraan ini hanya berlangsung sebentar, sehingga meskipun tarif dan aksi militer telah dibatalkan, kekhawatiran soal kemungkinan pengambilalihan Greenland dan intervensi The Fed di dalam negeri masih membebani sentimen investor.
Sponsored
Sponsored
Pasar Global Alami Reli Singkat
Tak lama setelah Trump mengurungkan janji-janji sebelumnya untuk mengenakan tarif pada delapan negara Eropa, Bitcoin berhasil kembali ke level US$90.000. Pergerakan ini mencerminkan kelegaan investor di tengah tanda-tanda meredanya ketegangan setelah pekan yang penuh gejolak.
Saham AS ikut stabil. Indeks S&P 500 naik 1%, memulihkan sebagian dari penurunan 2,1% yang terjadi sehari sebelumnya setelah pengumuman tarif awal oleh Trump. Indeks Nasdaq juga mencatat kenaikan serupa. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melonjak 550 poin.
Namun, kelegaan ini sepertinya berlangsung singkat. Dolar tetap tertekan, turun terhadap euro dan yen.
Permintaan emas juga tetap kuat, dengan harga mendekati US$4.839, naik sekitar 1% dibanding hari sebelumnya.
Meski Trump sudah membalikkan kebijakan tarif dan menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk menguasai Greenland, kepercayaan investor masih rapuh. Pernyataan itu belum cukup untuk mengurangi kekhawatiran lebih besar soal risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan yang tetap memengaruhi sentimen pasar.
Sponsored
Sponsored
Greenland Mendorong di Tengah Kekhawatiran atas Independensi The Fed
Tekanan kuat Trump supaya AS mengakuisisi Greenland belum benar-benar menghilangkan keraguan di pasar. Meski ia mengumumkan di media sosial bahwa AS dan Eropa sudah “membentuk kerangka kesepakatan masa depan,” kesepakatan itu sejauh ini belum rampung dan detailnya juga masih belum diketahui.
Jika gagal terjadi, Trump sudah memperkirakan bahwa akan ada konsekuensi jika Uni Eropa tidak memenuhi permintaan AS.
“Kami ingin sepotong es untuk perlindungan dunia. Jika kalian bilang ya, kami akan sangat berterima kasih. Jika kalian bilang tidak, kami akan selalu ingat hal itu,” ujar Presiden AS.
Pada saat yang sama, Trump kembali mendesak pelonggaran kebijakan moneter, bahkan mengkritik keras The Fed. Ia menyerang Ketua Jerome Powell dengan menyebutnya “bodoh” dan menuduhnya mempertahankan suku bunga yang terlalu ketat, yang menurut Trump, menahan pertumbuhan ekonomi.
Kekhawatiran akan potensi intervensi politik pada bank sentral AS mulai merambat ke pasar keuangan dalam beberapa pekan terakhir di tengah meningkatnya kecemasan di kalangan investor.
Beberapa pemimpin bisnis besar telah secara terbuka membela prinsip independensi bank sentral. Pekan lalu, CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, mengkritik keputusan Departemen Kehakiman untuk membuka penyelidikan pidana terhadap Powell.
“Menurut saya, ini mungkin bukan ide bagus dan justru bisa berdampak sebaliknya, yaitu menaikkan ekspektasi inflasi dan mungkin malah memicu kenaikan suku bunga dalam jangka panjang,” papar dia kepada wartawan dalam sebuah panggilan konferensi.
Meski dikritik, Trump tetap tidak melunak. Ia menutup pernyataannya dengan menyampaikan keyakinan bahwa orang selanjutnya yang dipilih untuk menggantikan Powell sebagai ketua akan “melakukan tugas yang benar.”
Secara keseluruhan, investor tetap waspada terhadap berbagai kemungkinan yang bisa terjadi selanjutnya.
