Harga Bitcoin Masuki Maret dalam Kondisi Tertekan. Februari Menyebabkan Kerugian Hampir 15%, Menggemakan Penurunan Lebih dari 17% pada Februari Tahun Lalu.

Dengan lima bulan berturut-turut berakhir merah, mulai dari Oktober 2025, serta median hasil Maret sebesar −1,31%, kondisi musiman tidak memberikan banyak harapan. Tapi di balik itu semua, ada perubahan yang mungkin mulai terbentuk. Berikut data yang muncul saat memasuki bulan Maret.

Harga Bitcoin Masih Bergerak Sebagai Aset Berisiko

Salah satu kekhawatiran utama untuk harga Bitcoin saat ini adalah korelasi yang terus berlanjut dengan saham AS. Ini tercermin dalam data historis karena performa bulanan S&P 500 yang lemah membuat Februari juga suram untuk Bitcoin.

Mau wawasan token seperti ini? Daftar ke Daily Crypto Newsletter oleh Editor Harsh Notariya di sini.

Riwayat Harga
Riwayat Harga BTC | Sumber: CryptoRank

Pada 1 Maret, korelasi rolling 30 hari antara Bitcoin dan S&P 500 berada di angka 0,55, naik dari sekitar 0,50 pada Oktober 2025.

Korelasi Equities AS
Korelasi Bitcoin vs Equities AS | Sumber: Newhedge

Artinya, harga Bitcoin terus bergerak sejalan dengan saham, sehingga daya tariknya sebagai aset lindung terhadap risiko pasar tradisional berkurang. Dengan tarif global baru dari Trump yang menekan saham dan potensi eskalasi militer AS-Iran membebani minat risiko, perilaku Bitcoin yang cenderung risk-on tetap membuatnya rentan.

Kevin Crowther, Founder dari KC Private Wealth, menegaskan dinamika ini.

“Korelasi tinggi Bitcoin dengan saham software melemahkan perannya sebagai aset lindung di masa ketidakpastian, dan selama Trump terus mempertinggi ketidakpastian ekonomi, sebaiknya kita memang mengantisipasi kelemahan BTC yang berlanjut,” ujar Crowther.

Sementara emas dan perak terus naik, Bitcoin justru masih tertekan. Tapi jika ketegangan geopolitik mereda, terutama terkait Iran, sentimen risiko bisa bergeser. Dan jika perdagangan emas dan perak mulai jenuh, modal mungkin mulai beralih ke Bitcoin sebagai alokasi berikutnya yang belum ramai. Namun, rotasi tersebut sangat tergantung pada putusnya korelasi dengan pasar saham.

Outflow ETF Bitcoin Mulai Mereda: Pergeseran yang Tenang

Meski gambaran makro masih menantang, data exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot menunjukkan cerita yang lebih beragam. Februari menjadi bulan keempat berturut-turut terjadi outflow bersih, tetapi pergerakan trennya berubah signifikan.

Data ETF Historis
Data ETF Historis | Sumber: SoSoValue

Pada November 2025 terjadi outflow sebesar US$3,48 miliar. Desember mencatat US$1,09 miliar, Januari US$1,61 miliar, dan Februari hanya US$206,52 juta — turun 94% dari puncak di bulan November.

Orkun Mahir Kılıç, Co-Founder dari Citrea, terang bahwa outflow ini mencerminkan penyesuaian posisi, bukan penarikan struktural.

“Outflow dari ETF lebih mencerminkan deleveraging daripada institusi benar-benar keluar. Agar arus berbalik signifikan, pasar butuh arah makro yang lebih jelas dan volatilitas lebih rendah,” papar Kılıç dalam kutipan eksklusif untuk BeInCrypto.

Nima Beni, Founder dari Bitlease, lebih tegas menyoroti makna data tersebut, terutama jika melihat outflow dari IBIT milik BlackRock:

“Outflow ETF itu akibat kepanikan ritel, yang justru membuka peluang institusi. Outflow IBIT BlackRock sebesar US$2,13 miliar kurang penting dibanding fakta bahwa 94% kepemilikan ETF Bitcoin tetap bertahan walau di tengah ketakutan maksimal. Inilah keyakinan institusi, bukan tanda meninggalkan pasar,” jelas Beni.

Secara keseluruhan, para ahli nampaknya tidak terlalu khawatir dengan tren outflow ETF ini.

Tekanan Jual Mulai Melemah di Semua Sektor – Pemicu Reli?

Di luar ETF, data on-chain menunjukkan aksi jual dari holder jangka panjang maupun Bitcoin miner mulai cepat mengering.

Holder jangka panjang — wallet yang sudah menyimpan Bitcoin selama 365 hari atau lebih — menjadi grup krusial untuk menentukan arah pasar. Begitu mereka berhenti jualan, harga Bitcoin biasanya stabil dan pulih. Selama Februari, aksi jual bersih mereka turun drastis. Pada 5 Februari, perubahan posisi bersih rolling 30 hari untuk holder jangka panjang masih di −243.737 BTC. Namun pada 1 Maret, angka ini tinggal −31.967 BTC, turun 87%.

Perubahan Posisi Bersih Pemegang Jangka Panjang
Perubahan Posisi Bersih Pemegang Jangka Panjang: Glassnode

Perilaku para miner juga menunjukkan tren yang sama. Para Bitcoin miner, yang biasanya menjual BTC untuk menutupi biaya operasional, mengalami puncak kapitulasi sekitar 8 Februari saat penjualan bersih mencapai −4.718 BTC. Namun, pada 1 Maret, angka ini menurun drastis menjadi −837 BTC, yang menandakan kapitulasi para miner terburuk sepertinya sudah berlalu.

Perubahan Posisi Bersih Miner
Perubahan Posisi Bersih Miner: Glassnode

Han Tan, Chief Market Analyst di Bybit, memberikan penjelasan penting di sini dengan memperhitungkan pertumbuhan hash rate negatif.

“Bitcoin miner tidak sedang kapitulasi; mereka sedang melakukan diversifikasi secara strategis. Penurunan hashrate memang sewajarnya terjadi saat harga Bitcoin anjlok, tetapi itu tidak berarti ada kapitulasi struktural,” terang Tan.

Pertumbuhan hash rate negatif ini berarti total kekuatan komputasi yang menjaga keamanan jaringan Bitcoin sedang menurun, bukan naik. Biasanya, hal ini terjadi saat para miner mematikan mesin karena profitabilitas mining berkurang, misalnya akibat harga Bitcoin yang rendah atau biaya listrik yang lebih tinggi. Penjelasan ini sesuai dengan apa yang baru saja Tan paparkan.

Whale Sedang Akumulasi di Dekat SMA 20 Hari

Di saat aktivitas jual mulai melemah, aktivitas beli secara diam-diam justru meningkat di kalangan crypto whale. Wallet yang menyimpan antara 100.000 hingga 1.000.000 BTC menambah kepemilikan mereka dari 676.540 menjadi 690.000 BTC sekitar tanggal 19–20 Februari, tepat saat koreksi harga sebesar 4,06% terjadi. Yang terpenting, mereka belum melakukan penjualan lagi setelah itu.

Sementara itu, whale yang lebih kecil dengan kepemilikan antara 1.000 hingga 10.000 BTC mulai melakukan akumulasi sejak 25 Februari, meningkatkan kepemilikan mereka dari 4,222 juta menjadi 4,23 juta BTC.

Kepemilikan Whale
Kepemilikan BTC Whale: Santiment

Mengapa para whale memilih menahan BTC mereka?

Salah satu alasan yang mungkin adalah Simple Moving Average (SMA) 20-hari, yakni indikator tren jangka pendek yang merata-ratakan harga selama 20 hari. Saat ini, harga Bitcoin diperdagangkan sedikit di bawah SMA 20-hari yaitu di level US$67.100. Terakhir kali harga melewati level ini secara jelas—pada 1 Januari—Bitcoin mencatat reli lebih dari 12%. Para whale nampaknya bersiap untuk breakout yang serupa.

Level Harga Kunci
Level Harga Kunci: TradingView

Namun, gambaran jangka panjang butuh keyakinan yang lebih kuat. SMA 50-hari berada di level US$77.200, dan SMA 200-hari—level yang bisa benar-benar mengonfirmasi pembalikan tren bullish—masih jauh di atas, yakni di US$96.800.

Han Tan dari Bybit juga menyoroti pentingnya salah satu level tersebut:

“Untuk naik, Bitcoin harus kembali di atas SMA 50-hari dan merebut lagi level psikologis US$80.000 supaya lebih banyak pembeli tertarik kembali ikut masuk,” tambahnya.

Bear Flag Ancam Harga Bitcoin, tapi Invalidasi Sedang Berlangsung

Pada grafik tiga hari, harga Bitcoin bergerak di dalam pola bear flag, yakni pola lanjutan bearish di mana harga tertahan naik di dalam garis tren paralel setelah penurunan tajam. Flagpole (tiangnya) mencerminkan penurunan sekitar 39%, yang berarti jika breakdown terkonfirmasi, potensi penurunan serupa bisa terjadi lagi.

Yang memperkuat kondisi ini, terbentuk hidden bearish divergence pada Relative Strength Index (RSI), yaitu indikator osilator momentum. Di antara 6 Februari sampai 24 Februari, harga Bitcoin membentuk lower high sedangkan RSI membentuk higher high. Ketidaksesuaian ini mengindikasikan, meski ada rebound harga, momentum utama masih cenderung ke bawah.

Struktur Harga Bearish
Struktur Harga Bearish: TradingView

Level-level kunci sudah jelas. Untuk potensi penguatan, US$71.300 adalah resistance penting pertama. Jika harga berhasil menembus US$79.000, maka pola bear flag bisa dianggap tidak berlaku. tetap saja, jika harga BTC terus rebound, struktur pola akan berubah menjadi channel naik, yang artinya bisa bullish. Beberapa candle 3-hari berikutnya sangat menentukan: apakah pattern bear flag akan jebol atau justru invalidasi aturan bearish pole-and-flag yang terjadi.

Di sisi penurunan, jika breakdown di bawah US$62.300, harga akan menuju ke level support Fibonacci di US$56.800, US$52.300, US$47.800, dan untuk skenario ekstrem, bisa saja sampai US$41.400.

Analisis Harga Bitcoin
Analisis Harga Bitcoin: TradingView

Crowther melihat kemungkinan hasil yang paling besar tetap cukup terkendali dan menyoroti peluang pantulan ringan.

“Pergerakan harga datar atau sedikit positif sepanjang Maret seharusnya jadi skenario dasar bagi investor untuk saat ini,” ucap Crowther.

Kılıç, meski begitu, tidak sepakat dengan sudut pandang bearish tersebut dan lebih setuju dengan analisis exhaustion aksi jual di on-chain serta harapan terjadinya pantulan harga:

“Rasa takut ekstrem dan arus keluar ETF terdalam dalam satu tahun terakhir bukanlah sinyal bearish. Saya justru menilainya sebagai tanda kapitulasi klasik, yang membuat pelaku pasar lemah keluar dan pasokan jadi makin ketat,” terang Kılıç.

Jadi, jalur yang paling mungkin di bulan Maret melibatkan pantulan harga lokal yang didorong oleh tekanan jual yang mulai melemah serta akumulasi dari whale, lalu dilanjutkan aksi jual baru ketika struktur bear flag yang lebih besar terselesaikan. Tekanan jual memang melemah, tapi belum benar-benar hilang. Titik terendah lokal tidak selalu sama dengan titik terendah siklus. Maret bisa ditentukan oleh apakah support di US$62.300 tetap terjaga atau resistance di US$79.000 yang lebih dulu terpecahkan.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *