Indeks utama Shanghai melonjak ke penutupan tertinggi selama satu dekade pada hari Senin, karena investor dari Cina beramai-ramai masuk ke saham energi, emas, dan pertahanan usai konflik Iran — semakin menegaskan alasan mengapa modal dari Cina terus menjauh dari pasar aset kripto.

Reli ini, ditambah dengan semakin ketatnya kontrol Beijing terhadap likuiditas domestik menjelang Kongres Rakyat Nasional pekan ini, semakin memperkecil kemungkinan modal dari Cina akan mengalir ke aset kripto dalam waktu dekat.

Kisah Dua Pasar

Indeks Komposit Shanghai ditutup naik 0,5% di 4.182,6 poin per 2 Maret, yakni angka tertinggi sejak Juni 2015, meski sebagian besar pasar Asia tertekan akibat situasi geopolitik. CSI300 saham unggulan Cina juga menguat 0,4%.

Kenaikan indeks didorong oleh lonjakan saham energi dan aset safe haven. Saham CNOOC, PetroChina, dan Sinopec semuanya melonjak tajam setelah harga minyak mencatat kenaikan terbesar dalam empat tahun. Indeks yang melacak saham emas Cina melesat 7%, dan saham pertahanan juga mengalami kenaikan. Saham pelayaran seperti Nanjing Tanker dan COSCO Shipping bahkan mencapai batas atas harian 10%.

Sementara itu, Hong Kong — satu-satunya gerbang legal untuk investor Cina yang ingin mendapat eksposur ETF kripto — justru menunjukkan kisah berbeda. Indeks Hang Seng merosot lebih dari 2% ke titik terendah dua bulan, di mana sektor teknologi, kesehatan, dan pariwisata menjadi yang paling terpukul. ETF kripto yang tercatat di Hong Kong turun secara menyeluruh, dengan ChinaAMC Bitcoin ETF (3042.HK) turun 2%, Bosera HashKey Bitcoin ETF (3008.HK) melemah 2,3%, dan Harvest Bitcoin Spot ETF (3439.HK) anjlok 2,4%. ETF Ether juga mengalami penurunan.

Mengapa Ini Penting untuk Aset Kripto

Perbedaan antara Shanghai dan Hong Kong ini menyoroti permasalahan struktural dalam adopsi aset kripto di antara sumber modal dari Cina.

Investor dari daratan Cina masih dilarang untuk mengakses ETF Bitcoin spot dan Ethereum spot di Hong Kong secara langsung. Beberapa jalur potensial — seperti program QDII dan skema Cross-boundary Wealth Management Connect di Kawasan Greater Bay — sudah pernah dibahas oleh pelaku industri dan pakar hukum, namun belum satupun diwujudkan dalam kebijakan nyata. Ekspansi skema wealth connect GBA pada Januari 2025 sempat memunculkan harapan, namun tetap belum secara jelas memasukkan produk kripto.

Dengan saham Shanghai sedang reli — didorong ekspektasi dukungan kebijakan jelang Kongres Rakyat Nasional yang dibuka pada 5 Maret — dorongan bagi modal Cina untuk mencari aset alternatif seperti kripto semakin kecil.

Beijing punya rekam jejak panjang dalam menopang pasar domestik saat terjadi krisis eksternal. Hong Kong, yang terbuka terhadap arus modal global, biasanya harus menanggung dampaknya. Hari Senin menjadi contoh klasik. Guncangan geopolitik yang menaikkan saham energi dan pertahanan Shanghai malah membuat Hang Seng jatuh. ETF kripto pun ikut tertekan. Bila konflik semakin meningkat, emas nampaknya tetap jadi safe haven pilihan bagi investor Cina, sementara Bitcoin makin tertekan lebih dalam.

Faktor NPC

Rapat tahunan parlemen Beijing pekan ini juga jadi faktor lain. NPC diperkirakan akan menetapkan target pertumbuhan PDB 2026 di kisaran 4,5%–5% dan memaparkan Rencana Lima Tahun Ke-15, dengan fokus pada permintaan domestik, kemandirian teknologi, dan stimulasi konsumsi.

Latar belakang kebijakan ini memperkuat narasi bahwa Beijing ingin modal tetap berputar di ekosistem finansial dalam negeri — lewat A-shares, obligasi pemerintah, serta instrumen investasi yang diarahkan negara — daripada dialirkan keluar negeri ke aset volatil.

Secara historis, guncangan geopolitik hanya berdampak jangka pendek pada A-shares Cina. Perangkat kebijakan Beijing — mulai dari pembelian oleh dana negara hingga pembatasan perdagangan — memang dirancang agar pasar domestik tetap stabil dari gejolak eksternal, dan periode sebelum NPC justru semakin mempertebal tekad itu.

Bagi aset kripto, semua faktor ini bergerak ke arah yang tidak menguntungkan. Pasar ekuitas domestik masih solid, dukungan kebijakan segera datang, dan pengawasan arus modal dari Beijing tetap ketat.

Bitcoin Terjebak di Tengah Konflik

Bitcoin sendiri kesulitan membuktikan diri sebagai safe haven selama konflik Iran. Setelah turun ke US$63.000 pada Sabtu pasca serangan AS-Israel, BTC sempat naik di atas US$68.000 menyusul laporan kematian Pemimpin Tertinggi Khamenei sebelum akhirnya menetap di sekitar US$66.000 — kira-kira di level yang sama seperti sebelum serangan terjadi.

Arus keluar dana dari produk dana kripto global kini sudah berlangsung lima minggu berturut-turut, dengan total penarikan mencapai US$4 miliar, menurut data CoinShares. Dalam sepekan terakhir saja, penarikan dana mencapai US$288 juta, sementara volume perdagangan turun ke US$17 miliar — terendah sejak Juli 2025. Bitcoin telah turun 23% sejak awal tahun dan merosot sekitar 48% dari rekor tertingginya di US$126.000 pada Oktober 2025.

Dengan saham Cina menyerap likuiditas domestik, pasar Hong Kong tertekan, dan aset kripto semakin mirip aset berisiko dibanding emas digital, kemungkinan modal besar dari Cina benar-benar masuk ke pasar aset kripto sepertinya masih sangat kecil — setidaknya untuk saat ini.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *