Harga XRP naik sekitar 2% dalam 24 jam terakhir. Pergerakan kecil ini merupakan bagian dari rebound lebih luas hampir 6% setelah XRP sempat jatuh menembus level support penting. Ya, ini adalah breakdown.
Breakdown tersebut awalnya mengonfirmasi pola head-and-shoulders bearish, yang memproyeksikan penurunan tajam sebesar 20%. Tapi, ceritanya tidak berhenti di situ. Bukannya turun lebih dalam, XRP justru cepat rebound. Data terbaru kini menunjukkan bahwa breakdown ini bisa jadi hanya jebakan bearish, yang mengundang trader short sebelum akhirnya harga berbalik arah naik.
Breakdown Bearish 20% XRP Ciptakan Setup Perangkap Sempurna
Pola bearish ini mulai tampak di grafik 8 jam pada 6 Februari. XRP membentuk pola head-and-shoulders. Ini adalah salah satu pola pembalikan bearish yang paling sering diamati. Level kunci pada pola ini adalah neckline. Untuk XRP, support ini berada di kisaran US$1,33.
Saat token XRP Ledger menembus level tersebut pada 24 Februari, artinya struktur bearish tadi sudah terkonfirmasi. Berdasarkan tinggi polanya, proyeksi target penurunan sekitar 20%. Di waktu yang sama, muncul juga peringatan lain yang makin mengonfirmasi breakdown tadi.
On-Balance Volume (OBV) tercatat turun meski harga XRP naik antara 5 Februari hingga 24 Februari. OBV mengukur tekanan beli dan jual berdasarkan volume. Saat OBV turun padahal harga naik, itu menandakan kekuatan buyer melemah. Inilah yang membuat breakdown tadi terlihat makin meyakinkan.
Ingin insight token seperti ini? Daftar pada Newsletter Kripto Harian Editor Harsh Notariya di sini.
Akan tetapi, daripada lanjut turun ke target 20%, XRP malah segera berbalik dan reli hampir 6%. Inilah tanda pertama bahwa breakdown tersebut berubah menjadi jebakan.
Lonjakan Open Interest US$770 Juta Tunjukkan Trader Tergoda Umpan
Data Open Interest mengonfirmasi bahwa para trader bereaksi agresif saat terjadi breakdown. Open Interest, yang mengukur total nilai posisi Futures aktif, naik dari sekitar US$750 juta pada 22 Februari menjadi hampir US$770 juta pada 23 Februari, hanya beberapa jam sebelum breakdown terjadi.
Di saat yang sama, funding rate turun tajam dari sekitar –0,0025% ke hampir –0,014%, naik 460% dari sisi intensitas posisi short. Perubahan ini sangat penting.
Funding rate yang makin negatif berarti trader short bertambah sangat cepat, bahkan rela membayar premi untuk mempertahankan posisi bearish mereka. Sederhananya, para trader sangat agresif bertaruh XRP akan turun lebih jauh.
Kondisi ini membuat trade short jadi sangat ramai. Tapi saat XRP malah reli ketimbang anjlok, banyak posisi short kemungkinan terpaksa ditutup atau mengurangi eksposurnya.
Setelah itu, open interest turun dari US$770 juta ke sekitar US$756 juta saat harga berbalik naik. Penurunan ini menandakan adanya posisi leverage yang sudah ditutup selama reversal. Open interest sendiri belum cukup untuk memastikan siapa yang keluar, apakah yang long atau short.
Tetapi, karena funding rate sebelumnya sangat negatif sebelum rebound, ini menandakan posisi bearish mendominasi, dan kemungkinan sebagian trader harus mengurangi posisi atau bahkan terlikuidasi saat breakdown gagal terjadi.
Pembelian Whale XRP 150 Juta Terjadi saat Trap — Bukan Sebelumnya
Perilaku whale pada periode ini menambah fakta menarik lainnya. Wallet yang menampung antara 1 juta hingga 10 juta XRP menaikkan kepemilikan dari 3,77 miliar XRP menjadi 3,81 miliar XRP. Pada waktu yang sama, klaster whale terbesar, dengan kepemilikan antara 100 juta hingga 1 miliar XRP, menambah simpanannya dari 8,35 miliar XRP menjadi 8,46 miliar XRP.
Bila digabungkan, kedua grup ini membeli kira-kira 150 juta XRP dalam dua hari, dari 23 Februari hingga 25 Februari. Dengan harga rata-rata US$1,35, ini setara sekitar US$200 juta. Yang paling penting, akumulasi ini terjadi selama dan sesaat setelah breakdown.
Artinya, whale tidak panik jual. Mereka justru menyerap supply saat para trader keluar dari posisi mereka.
Perilaku ini kerap mencerminkan langkah akumulasi dalam masa ketakutan pasar yang tinggi. Hal ini juga membuat kelanjutan breakdown bisa semakin terbatas selama whale belum mulai menjual.
Harga XRP Kini Mendekati Zona Breakdown Lain — tapi Risiko Trap Masih Tinggi
Kini XRP mendekati zona risiko penting lainnya (neckline), kali ini di sekitar US$1,31 seiring pola right shoulder berikutnya mulai terbentuk. Level ini masih jadi support terpenting. Jika XRP breakdown lagi di bawah US$1,31 dan harganya bertahan di bawah itu, pola bearish dengan potensi breakdown lebih dari 20% bisa kembali aktif.
Jika kondisi itu terjadi, target penurunan berikutnya berada di sekitar US$1,26 dan US$1,17, yang akan dijelaskan nanti. Level-level ini sesuai dengan zona support teknikal utama.
namun, perilaku perangkap terbaru menunjukkan skenario lain bisa terjadi. Jika XRP sempat turun di bawah US$1,31 namun langsung pulih, aksi tersebut dapat memicu short squeeze baru.
Di sisi atas, jika XRP dapat kembali menembus US$1,40, skenario bearish akan menjadi lemah. Perangkap sepertinya mulai terbentuk, karena open interest naik lagi menjadi US$754 juta dan funding rate kembali ke area negatif.
Jika harga bergerak di atas US$1,67, itu akan membatalkan sepenuhnya pola head-and-shoulders. Sampai salah satu level ini benar-benar ditembus, XRP mungkin terus bergerak di kisaran yang rawan perangkap. Saat ini, data menunjukkan pola yang jelas.
Proyeksi breakdown 20% telah menarik banyak posisi short secara agresif. Open interest pun ikut melonjak. Funding rate berubah sangat negatif. Tetapi whale justru mengakumulasi 150 juta XRP di tengah kepanikan itu. Kombinasi faktor ini menunjukkan bahwa breakdown bearish pada XRP sepertinya lebih menjadi umpan daripada konfirmasi tren turun.
Pergerakan berikutnya akan menentukan apakah pola ini akhirnya benar-benar menimbulkan penurunan sesuai proyeksi, atau malah berubah menjadi perangkap lagi di pasar derivatif yang makin volatil.
